Powered by DaysPedia.com
Waktu Saat Ini di Bandar Lampung
80243pm
Sabtu, 28 Maret
6:01am 12:05 6:06pm

Rabu, 22 April 2020

Kisah inspiratif

Rabu, 22 April 2020

Amr bin Jamuh, 

Kakinya Pincang Namun Paling Cepat Masuk Surga


Amr bin Jamuh

Namanya Amr bin Jamuh. Seorang sahabat Nabi dari kalangan anshar yang kisah masuk Islamnya sangat menarik dan kisah masuk surganya membuat iri.
Ia berasal dari Bani Salamah, bahkan termasuk tokohnya. Istrinya bernama Hindun Binti Amr bin Haram. Dari pernikahannya dengan Hindun, ia dikaruniai tiga putra; Muadz, Mu’awwidz dan Khalad.
Layaknya orang-orang Yatsrib lainnya, ia juga menyembah berhala. Ia memiliki sebuah berhala dari kayu yang ia namakan Manaf. Setiap hari berhala itu dirawatnya, dibersihkan, diberi wewangian dan dimuliakan.
Ketika anaknya, Muadz bin Amr sudah masuk Islam, tokoh Bani Salamah ini masih menyembah Manaf. Tak seharipun ia berhenti memuliakan dan memuja berhala kayunya itu.

 

Kisah Masuk Islamnya Amr bin Jamuh

Suatu hari, Muadz bin Amr punya ide untuk membuat ayahnya sadar dari sesatnya menyembah berhala. Cara biasa tak berhasil untuk mendakwahi Amr bin Jamuh.
Malam itu, Muadz bin Amr bersama Muadz bin Jabal diam-diam mengambil Manaf dari tempatnya. Lalu mereka buang.

Paginya, Amr bin Jamuh kaget melihat Manaf hilang dari tempatnya. Setelah mencarinya ke sana kemari, akhirnya ia menemukan tuhan itu di tempat sampah.
“Celaka kalian, siapa yang berbuat kurang ajar pada tuhanku tadi malam,” teriak Amr ibn Jamuh marah. Tak ada seorangpun yang mengaku bertanggungjawab atas penghinaan berhala itu. Ia lalu mencuci berhala itu, memberinya wewangian dan meletakkan kembali di tempatnya.
Malam berikutnya, Muadz bin Amr dan Muadz bin Jabal kembali menjalankan aksi serupa. Mereka mengambil Manaf dan membuangnya ke tempat sampah.
Keesokan harinya, Amr ibn Jamuh lagi-lagi terkejut sebab tuhannya tak ada di tempat. Ia pun menemukan tuhan itu di tempat sampah.
“Celaka kalian, siapa yang berbuat kurang ajar pada tuhanku tadi malam,” Amr bin Jamuh makin marah. Ia mulai kesal karena merasa dipermainkan. Ia tak ingin tuhannya dihina lagi. Diambilnya sebuah pedang dan diletakkan di leher Manaf, setelah berhala itu dicuci dan diberi wewangian.
“Jika engkau membawa kebaikan, lindungilah dirimu dengan pedang ini!” kata Amr bin Jamuh, tanpa jawaban apapun dari berhala itu.
Malamnya, Muadz bin Amr dan Muadz bin Jabal kembali mengerjai Manaf.
Amr bin Jamuh yang kembali kehilangan tuhannya segera mencarinya. Ia menemukan Manaf di tempat yang sama. Parahnya, pagi itu Manaf terikat pada bangkai anjing.
Kali ini Amr bin Jamuh tidak mengambilnya. Ia membiarkan Manaf begitu saja. “Kalau kau tuhan, engkau tidak akan terikat pada bangkai anjing.”
Detik itu ia sadar bahwa berhala yang disembahnya ternyata tak bisa berbuat apa-apa. Melindungi kehormatan diri sendiri saja tidak bisa, apalagi memberikan manfaat dan madharat pada manusia. Tak lama kemudian, Amr bin Jamuh pun masuk Islam.

 

Mengejar dengan Kedermawanan dan Mujahadah

Dibanding sejumlah tokoh Yatsrib baik dari suku Aus maupun Khazraj, Amr bin Jamuh termasuk ketinggalan masuk Islam. Ia baru masuk Islam setelah anaknya bersama Muadz bin Jamal melakukan strategi dakwah yang anti-mainstream.
Namun ‘keterlambatan’ masuk Islam itu segera dikejarnya dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih. Dua di antara keunggulan Amr bin Jamh adalah sifatnya yang dermawan dan kesungguhannya dalam mujahadah.
Setiap kali ada orang yang datang kepadanya meminta bantuan, ia bantu. Setiap kali ada orang yang menemuinya dan meminta pertolongan, ia tolong. Setiap kali ada orang yang meminta sedekah, ia beri. Setiap kali ada yang membutuhkan santunan, ia santuni.
“Ambillah ini, besok aku akan mendapatkannya lagi,” demikian kalimat Amr bin Jamuh yang terkenal. Ia sangat dermawan memberikan bantuan kepada orang lain. Dan segera Allah memberinya rezeki sehingga ia mendapatkan harta sebanyak itu. Bahkan lebih banyak lagi.
Sungguh bukti nyata atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Amr ibn Jamuh sebenarnya memiliki keterbatasan fisik. Salah satu betisnya cacat sejak lahir, sehingga ia tidak bisa berjalan cepat. Ia pincang.
Namun itu tak menjadi penghalang bagi kesungguhannya untuk membela Islam. Mendengar ada mobilisasi mujahidin ke Badar, ia mendaftarkan diri. Sayangnya, kaumnya menghalangi. Rasulullah juga tidak mengijinkan karena keterbatasan fisiknya.

Amr bin Jamuh Bergerak Cepat Masuk Surga

Ketika datang seruan jihad ke medan Uhud, Amr bin Jamuh tak mau dihalangi lagi. “Kalian telah melarangku ke perang badar, kali ini tak ada seorang pun yang boleh menghalangiku ke medan jihad.”
“Sesungguhnya Allah memberimu izin untuk tidak pergi berperang,” kata kaumnya membujuk agar ia tidak ikut.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, Amr ibn Jamuh mengadu. “Wahai Rasulullah, kaumku berusaha menahanku agar tidak berjihad bersamamu. Demi Allah, aku sangat berharap bisa menjejakkan kaki pincangku ini di surga.”
“Sesungguhnya Allah telah memaklumimu dan kau tidak wajib berjihad,” sabda Rasulullah kepada Amr bin Jamuh. Kemudian beliau berpaling kepada kaum Bani Salamah dan bersabda, “Kalian tidak berdosa jika tidak dapat mencegahnya. Semoga Allah menganugerahinya kesyahidan.”
Mendengar sabda Rasulullah itu, Amr ibn Jamuh senang bukan kepalang. Rasulullah tidak melarangnya ikut perang Uhud. Bahkan mendoakannya syahid.
Ia lantas segera bergegas. Menyiapkan perbekalannya lalu berangkat bersama pasukan Madinah ke medan Uhud. Dengan penuh kesungguhan ia berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah kesyahidan kepadaku. Jangan Engkau kembalikan aku kepada keluargaku dalam keadaan sia-sia.”
Perang Uhud berkecamuk hebat. Awalnya kaum muslimin menang, namun kemudian keadaan berbalik. Banyak sahabat Nabi yang syahid. Salah satunya adalah Amr bin Jamuh.
Saat Hindun datang melihat jenazah suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sungguh aku telah melihatnya menjejakkan kaki pincangnya di surga.”
Subhanallah.. Allaahu akbar! Amr bin Jamuh yang kakinya cacat, ia justru masuk surga dengan cepat. Di saat masih banyak sahabat yang masuk Islamnya lebih awal darinya, ia telah mendapat kabar gembira dari Rasulullah. Masuk surga dengan kaki pincangnya.

Selasa, 21 April 2020

Kisah inspiratif

Selasa, 21 April 2020

Mushab bin Umair, 

Pemuda Masa Rasul yang Pantang Menyerah


Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang pemuda bernama Mush’ab bin Umair. Ia  lahir pada tahun 585 M atau terpaut empat belas tahun lebih muda, dari Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW berusia 40 tahun dan Mush’ab bin Umair baru berusia 26 tahun.
Mush’ab bin Umair sebelum masuk Islam, merupakan sosok pemuda yang kaya, bernampilan rupawan dan biasa dengan kenikmatan dunia.
Di tengah Kehidupan Mush’ab bin Umair, yang dikelilingi oleh kafir Quraisy, dengan budaya suka menyembah berhala, minum khamr dan lain sebagainya, Allah SWT memberikan hidayah kepadanya, sehingga dia mampu membedakan manakah agama yang baik dan mana yang menyimpang.
Ketika banyak terjadi intimidasi terhadap dakwah Rasulullah SAW, Mush’ab bin Umair menguatkan hatinya untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Rasulullah SAW di rumah Al-Arqam, kemudian menyatakan keimanannya.
Rumah Al-Arqam terletak di bukit Shafa dan jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy. Rumah ini sekaligus menjadi rumah dakwah Rasulullah SAW secara sembunyi-sembunyi, ketika beliau mendapat intimidasi dari kafir Quraisy.
Setelah memeluk Islam, Mush’ab bin Umair menyembunyikan keislamannya.  Ketika kabar dirinya telah masuk Islam diketahui oleh keluarganya, ibunya marah dan memaksanya untuk keluar dari Islam, namun Mush’ab tidak menuruti perintah ibunya.
Karena ketidaktaatannya tersebut, Ibunya tidak memberinya makan dan pakaian yang layak berhari-hari.
Walaupun hidupnya serba susah karena hukuman dari ibunya tersebut, Mush’ab  tetap teguh memeluk Islam, karena baginya Islam telah membawanya ke jalan yang benar.
Suatu ketika dia datang menghadap Rasulullah SAW, dengan memakai baju yang tidak layak. Rasulullah SAW melihatnya sembari menangis, sebagaimana terekam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib,
“Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah SAW di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar, dan memiliki tambalan. Ketika Rosulullah SAW melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu, dibandingkan dengan keadaannya sekarang” (HR. Tirmidzi no. 2427).
Setelah berhasil melewati lika-liku kehidupan yang menimpanya, Mush’ab bin Umair berubah menjadi sosok penting dalam dakwah Islam di wilayah Madinah.
Dia adalah sosok Sahabat Nabi, yang masih muda dan berhasil mengislamkan banyak orang di Madinah, Bahkan dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Mush’ab bin Umair berhasil mengislamkan hampir semua Bani Asydhal, kecuali satu orang.
Mush’ab bin Umair merupakan sosok yang pantas untuk diteladani oleh para milenial saat ini. Di usia yang masih muda, Mush’ab bin Umair sudah ikut menyebarkan dakwah Islam ke khalayak umum.
Bagi Milenial masa kini yang hidup di masa kecanggihan teknologi, sudah seharusnya ikut berperan aktif dalam menyebarkan kebenaran dan pesan-pesan damai agama, baik itu melalu tulisan, maupun video dan lain sebagainya, apalagi di era post truth seperti ini.
Selain itu, dari kisah Mush’ab bin Umair tersebut kita bisa mengerti bahwa sebuah kesuksesan membutuhkan proses yang panjang, yakni: dengan melakukan kerja cerdas, suka berbagi dan lain sebagainya.
Dan yang tidak kalah penting adalah terus berjuang tanpa lelah, sebagaimana perjuangan Mush’ab bin Umair menghadapi hukuman dari keluarganya sendiri.

Wallahu A’lam.

Senin, 20 April 2020

Kisah inspiratif

Senin, 20 April2020

Perjalanan Panjang Salman Al-Farisi Menemukan Islam


Barang siapa yang mendapatkan petunjuk Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya. Demikianlah penggalan ayat yang kiranya sesuai dengan kisah yang terjadi pada salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Salman Al-Farisi. Pencarian panjang Salman untuk menemukan kebenaran telah melewati perjalanan yang berliku. Hingga akhirnya, ia menemukan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang membuatnya memeluk Islam.

Dikutip dari buku berjudul "Perjalanan Mencari Kebenaran, Seorang Laki-laki bernama Salman Al-Farisi" karya Dr Saleh as-Saleh, Salman dikatakan menceritakan kisahnya kepada seorang sahabat dan keluarga dekat Nabi Muhammad yang bernama Abdullah bin Abbas. Abdullah kemudian menceritakan kisah seorang Salman itu kepada yang lainnya.

Salman adalah seorang sahabat Nabi yang berasal dari bangsa Persia, yaitu dari sebuah desa bernama Jayyun di kota Isfahaan. Ayahnya adalah seorang kepala desa. Karena sikap baiknya kepada sang ayah, Salman dipercaya ayahnya untuk mengawasi api yang dia nyalakan. Demikianlah, ayah Salman adalah seorang Majusi yang menyembah api.

Suatu hari, ayahnya memintanya untuk pergi ke tanah miliknya dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Namun dalam perjalanan menuju tempat yang dituju, ia mendengarkan suara orang-orang yang tengah shalat di dalam gereja Nasrani. Selama hidupnya, Salman memang dibatasi ayahnya dari dunia luar. Rasa penasaran membuat Salman masuk ke dalam gereja dan melihat apa yang mereka lakukan.

Saat melihatnya, Salman mengaku bahwa ia menyukai shalat mereka dan tertarik terhadap agama Nasrani. Salman memang memiliki pemikiran yang terbuka dan bebas dari taklid buta.

"Saya berkata (kepada diriku), 'sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami'. Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku."

Salman menganggap agama tersebut adalah keimanan yang benar. Ia lantas bertanya kepada orang-orang di gereja, 'darimana asal agama tersebut?'. Mereka menjawab: 'Dari Syam'. Negara Syam saat dikenal termasuk empat negara, yaitu Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon.

Salman tetap mengingat ayahnya dan kembali, setelah ayahnya mengirim seseorang untuk mencarinya. Ia lantas menceritakan apa yang dialaminya dan termasuk ketertarikannya kepada agama Nasrani itu. Sang ayah lantas menegaskan, bahwa tidak ada kebaikan pada agama Nasrani. Sang ayah bersikeras bahwa agama Majusi adalah agama nenek moyangnya yang lebih baik.

Namun, Salman menegaskan, bahwa agama Nasrani itu lebih baik dari Majusi. Karena pendiriannya itu, ayahnya kemudian mengancamnya dan merantai kedua kakinya serta memenjarakannya di rumahnya.

Namun, hal itu tak lantas menyurutkan langkah Salman untuk melanjutkan pencariannya akan kebenaran. Ia lantas mengirimkan pesan kepada kaum Nasrani dan meminta mereka memberi kabar jika ada pedagang Nasrani datang dari Syam. Ia juga meminta orang Nasrani untuk mengabarinya kapan rombongan dari Syam itu kembali ke negerinya. Setelah rombongan itu bersiap kembali ke Syam, Salman lantas melepaskan rantai dari kakinya dan mengikuti rombongan itu sampai tiba di Syam.

Saat di Syam, ia bertanya dan mencari sosok yang paling alim di antara orang dari agama mereka. Mereka kemudian menunjuk pada seorang pendeta di dalam gereja. Salman kemudian mendatangi sang pendeta dan berkata bahwa ia menyukai agama Nasrani dan akan berkhidmah di gereja.

Namun, Salman menemukan sesuatu yang buruk dari pendeta itu. Salman bercerita, bahwa pendeta itu memerintahkan kaumnya untuk membayar sedekah. Namun, ia hanya menyimpannya bagi dirinya sendiri dan tidak memberikannya kepada orang-orang miskin.

Salman yang membenci perbuatan sang pendeta. Hingga akhirnya sang pendeta meninggal, ia membuka keburukannya kepada kaumnya dan menunjukkan harta simpanan berupa tujuh guci emas dan perak yang disembunyikan sang pendeta. Kaumnya lantas enggan menguburkan sang pendeta dan mencaci makinya.

Namun sebelum sang pendeta meninggal, Salman bertanya dan meminta wasiat siapa yang akan diikutinya setelah pendeta itu tiada. Sang pendeta kemudian menunjuk kepada seorang laki-laki di Musil, kota besar di barat laut Iraq.

Salman pun mendatangainya dan tinggal bersama dengan orang yang berpegang pada ajaran Nasrani seperti pendeta sebelumnya. Ketika ajal mendatangi laki-laki itu, Salman kemudian meminta kepadanya wasiat untuk mengikuti orang lain yang berada di atas agama yang sama. Laki-laki itu kemudian menunjuk pada seorang laki-laki di Nasibin, sebuah kota di tengah perjalanan antara Musil dan Syam, bernama fulan bin fulan.

Hal serupa kembali terjadi. Sosok yang diikuti juga meninggal, setelah Salman mengikutinya beberapa waktu. Wasiat yang sama lantas diminta Salman kepadanya sebelum ajal menghampiri. Laki-laki itu mewasiatkan Salman untuk bergabung dengan seseorang di Amuriyah, sebuah kota yang merupakan bagian dari Wilayah Timur Kekaisaran Romawi.

Setelah mendatang orang yang dimaksud, Salman kemudian bekerja dan mendapatkan beberapa ekor sapi dan seekor kambing. Ajal mendekati laki-laki Amuriyah tersebut. Salman pun mengulang permintaannya. Namun, kali ini jawabannya berbeda.

Laki-laki itu berkata: "Wahai anakku! Saya tidak mengenal seorang pun yang berpegang pada perkara agama yang sama dengan kita. Namun, seorang Nabi akan datang pada masa kehidupanmu, dan Nabi ini berada pada agama yang sama dengan agama Ibrahim."

Seperti yang terkandung dalam QS Al-Baqarah ayat 132, Nabi Ibrahim mewasiatkan ucapan kepada anak-anaknya untuk tidak mati kecuali dalam memeluk agama Islam.

Ibrahim menikahi Sarah dan Hajar. Keturunannya dari perkawinannya dengan Sarah adalah Ishak, Yaqub, Daud, Sulaiman, Musa dan Isa alaihissalam. Sedangkan keturunannya dari perkawinannya dengan Hajar adalah Ismail dan Muhammad. Ismail dibesarkan di Makkah, Arab Saudi, dan Muhammad adalah keturunannya.

Laki-laki itu menggambarkan Nabi Muhammad SAW. Dia akan diutus dengan agama yang sama dengan (agama) Ibrahim. Dia akan datang di negeri Arab dan akan hijrah ke wilayah antara dua wilayah yang dipenuhi oleh batu-batu hitam (seolah telah terbakar api). Ada pohon-pohon kurma tersebar di tengah-tengah kedua tanah ini. Dia dapat dikenali dengan tanda-tanda tertentu. Dia (akan menerima) dan makan (dari) makanan yang diberikan sebagai hadiah, tetapi tidak akan makan dari sedekah. Stempel kenabian akan berada diantara pundaknya. Jika engkau dapat pindah ke negeri itu, maka lakukanlah.

Suatu hari, beberapa pedagang dari Bani Kalb melewatinya. Salman lantas meminta mereka untuk membawanya ke negeri Arab dan sebagai gantinya ia akan memberikan sapi-sapi dan kambing yang dimilikinya. Namun ketika mereka mendekati Wadi Al-Qura (dekat dengan Madinah), mereka menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi.

Suatu hari, sepupu majikan Salman dari suku Yahudi Bani Quraidha di Madinah datang berkunjung dan membeli Salman. Ia lantas membawa Salman ke Madinah. Hingga suatu hari, Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Salman berkata: (Suatu hari) saya sedang berada di atas pohon kurma di puncak salah satu rumpun kurma melakukan beberapa pekerjaan untuk majikanku. Saudara sepupunya datang kepadanya dan berdiri di hadapannya (majikan Salman sedang duduk) dan berkata, Celaka Bani Qilah (orang-orang dari suku Qilah), mereka berkumpul di Quba16 di sekitar seorang laki-laki yang datang hari ini dari Makah mengatakan (dirinya sebagai) seorang Nabi!

Saya bergetar hebat ketika mendengarnya hingga saya khawatir saya akan jatuh menimpa majikanku. Saya turun dan berkata, Apa yang engkau katakan? Apa yang engkau katakan? Majikanku menjadi marah dan memukulku dengan pukulan yang kuat seraya berkata, Apa urusanmu mengenai ini? Pergi dan kerjakanlah pekerjaanmu!"

Pada malam itulah, Salman pergi menemui Rasulullah ketika berada di Quba. Saat bertemu, Salman memberikan apa yang dia simpan sebagai sedekah. Salman pun menawarkannya kepada MUhammad. Rasulullah berkata kepada para sahabatnya untuk memakannya. Namun, beliau sendiri tidak memakannya. Saat itulah, Salman merasa yakin bahwa Rasulullah adalah sosok Nabi yang dimaksud.

Salman kemudian mendatangi Nabi kembali dan membawa hadiah untuknya di Madinah. Ia mengatakan kepada Nabi, bahwa dirinya tidak melihat Nabi memakan makanan dari sedekah. Karena itu, ia meminta Nabi memakan hadiah darinya. Nabi lantas memakannya dan memerintahkan para sahabatnya untuk melakukannya. Saat itulah, ia melihat ada dua tanda kenabian pada diri Rasulullah.

Pada pertemuan ketiga, Salman datang ke Baqi'ul Gharqad (tempat pemakaman para sahabat Nabi). Yang mana, saat itu Nabi tengah menghadiri pemakaman salah seorang sahabatnya. Saat itu, Salman menyapanya dengan sapaan Islam 'Assalamu'alaikum', dan kemudian berputar ke belakangnya untuk melihat stempel kenabian yang digambarkan kepadanya.

Ketika Nabi melihatnya, Beliau mengetahui bahwa ia tengah berusaha membuktikkan sesuatu yang digambarkan kepadanya. Beliau melepaskan kain dari punggungnya dan membiarkan ia melihat stempel itu.

Salman berkata: "Saya mengenalinya. Saya membungkuk dan menciumnya dan menangis. Rasulullah memerintahkanku untuk berbalik (yakni berbicara kepadanya). Saya menceritakan kisahku. Beliau sangat menyukainya sehingga memintaku menceritakan seluruh kisahku kepada para sahabatnya."

Saat itu, Salman masih menjadi budak majikannya. Karenanya, ia tidak mengikuti dua peperangan menghadapi kaum kafir Arab. Namun, Nabi memintanya untuk membuat perjanjian dengan tuannya untuk membebaskannya dari status budak. Salman lantas mendapatkan persetujuan dengan tuannya. Yang mana, dia akan membayar majikannya 40 ukiyah emas dan berhasil menanam 300 pohon kurma yang baru.

Nabi saat itu meminta para sahabat untuk membantu Salman mengumpulkan jumlah pohon kurma yang diminta. Nabi kemudian memerintahkan Salman untuk menggali lubang yang cukup untuk menanam bibit. Rasulullah kemudian menanam setiap bibit dengan tangannya sendiri. Salman lantas memberikan pohon-pohon itu kepada majikannya.

Di sisi lain, Nabi juga memberi Salman emas sebesar telur ayam dan memintanya untuk memberikan emas seberat 40 ukyah itu kepada majikannya sebagai penebus utang. Salman pun akhirnya dibebaskan. Sejak saat itu, Salman menjadi sahabat dekat Rasulullah.







Kamis, 16 April 2020

SBDP

KAMIS, 16  APRIL 2020

Kain Tenun Sengkang : Tradisi Asli Nusantara

Rangkuman materi tentang Kain Tenun Sutra Sengkang, Tradisi Asli Nusantara pelajaran SD kelas 4-6 belajar dari TVRI (Televisi Republik Indonesia). Sebelum kita bahas secara singkat, apa yang kalian ketahui mengenai kain tenun Sengkang​? Dari daerah manakah kain ini berasal?
Kain Tenun Sengkang merupakan salah satu warisan leluhur di Indonesia yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Seperti namanya, kain tenun ini berasal dari Kota Sengkang yang berjarak 191 km dari kota Makassar.
Materi Kain Tenun Sengkang
Foto by: https://bataritours.com/
Tenun sutera Sengkang mempunyai aneka motif khas Makassar dengan warna yang cerah. Tidak hanya di Sulawesi Selatan dan Indonesia, warisan leluhur ini cukup terkenal hingga ke mancanegara seperti negara Malaysia dan Singapura.
Bahan Dasar Untuk Membuat Kain Tenun Sengkang
Kain Tenun Sengkang berbahan dasar kepompong dari ulat sutra yang kemudian diolah secara manual (tidak menggunakan mesin) atau ATMB (Alat Tenun Bukan Mesin). Artinya pembutannya digerakkan oleh tangan-tangan manual, tenaga manusia.
Kepompong sebagai bahan untuk membuat kain ini dihasilkan dari ulat sutra yang dibudidayakan oleh masyarakat menggunakan tanaman Murbey (morus. sp). Kepompong yang telah dipanen kemudian diolah dengan beberapa tahapan.
Mulai dari tahap pemintalan dan pewarnaan yang kemudian diubah menjadi benang sebagai bahan dasar kain sutera. Tanaman Murbey sebagai media untuk ulat sutra sendiri banyak dijumpai di kota kabupaten sehingga pembudidayaannya dapat dilakukan di daerah ini.
Fungsi dan Kegunaan Kain Tenun Sengkang
Kain Sutra Sekang banyak digunakan dalam berbagai kegiatan penting, termasuk upacara adat, pesta pernikahan, hingga kegiatan resmi pemerintahan.
Sejarah Kain Tenun Sutra Sengkang
Menurut cerita turun temurun dan beberapa literatur, kain tenun sutra Sengkang telah ada sejak ratusan tahun silam. Kain tenun ini sudah ada sejak abad ke 14 di Kabupaten Wajo. Namun pada saat itu, terbatas pada pembuatan untuk pemakaian sendiri. Bukan untuk komoditi dagangan.
Misalnya saja seseorang ingin melakukan hajatan pernikahan, itu biasanya anak-anak perempuan diminta orang tua untuk menenun sarung. Apakah untuk dipakainya sendiri atau dipakai orang tuanya. Sehingga belum menjadi komoditi dagangan, hanya dipakai sendiri.
Sejarah kain tenun sutra Sengkang tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan Bugis dari keluarga. Orang tua suku Bugis zaman dulu menjadikan kain tenun sutra sebagai salah satu cara dalam mendidik anak perempuan mereka.
Agar supaya perempuan-perempuan ini bisa menjaga diri, terhindar dari pada hal-hal negatif sehingga lebih banyak dianjurkan untuk tinggal dirumah untuk menenun. Akhirnya menjadi tradisi dan budaya pada masyarakat Bugis, khususnya di Kabupaten Wajo ini setiap perempuan wajib pandai menenun.

Rabu, 15 April 2020

MATEMATIKA

JUMAT, 17 APRIL  2020

                                        Pengolahan Data 

Pengolahan data yang dipelajari pada bab ini antara lain:

1.        Nilai tertinggi dan nilai terendah.
2.        Rata-rata yaitu nilai rata-rata dari seluruh data hitung, dapat ditentukan dengan rumus berikut:
Rata-rata =
Jumlah data
Banyak data
3.        Modus yaitu nilai yang sering banyak muncul.
4.       Median yaitu nilai tengah dari sekumpulan data yang telah diurutkan dari yang terkecil hingga terbesar.
Contoh.
1.      Berikut ini adalah nilai ulangan Matematika dari lima siswa di kelas VI.
10     8      8          9          7
6       5      7          8          9
10     8      9          8          8
8           8      7          7          6
Berdasarkan  nilai tersebut tentukan: (a)  Nilai tertinggih dan terendah
(b)   Modus, dan
(c)    Rata-rata hitung
Penyelesaiannya:
Untuk mempermudah dalam pengolahan nilai, nilai dari kelima siswa kita urutkan terlebih dahulu.
5          6          6          7          7
7          7          8          8          8
8          8          8          8          8
9          9          9          10        10
  
a.       Berdasarkan nilai ulangan dari kelima siswa tersebut, 
       nilai tertinggih = 10
       nilai terendah   = 5
b.    
  
5  X 1   =   5
6  X  2  = 12
7  X  4  =  28
8  X  8   = 64
9  X  3   = 27
10 X  2  = 20

 Rata-rata hitung        =  156  : 20 
                                    = 7,8
c.    Modus = 8, karena 8 merupakan nilai yang paling banyak muncul yaitu 8 kali.
d.   Median = (8 + 8)/2
                  = 8

Pengertian Diagram Lingkaran

Diagram Lingkaran adalah Sebuah diagram yang berfungsi untuk menampilkan sebuah hasil data atau hasil angka yang digambarkan kedalam bentuk lingkaran.

    Diagram lingkaran di bawah ini menggambarkan data kegenaran 40 siswa kelas VI 
    sekolah dasar. Banyak siswa yang genar catur adalah....
  • A. 4
  • B. 6
  • C. 10
  • D. 20
Pembahasan :
2. Mata pencaharian warga desa Sukamaju disajikan pada diagram di bawah ini !
    Jika banyak TNI ada 270 orang, maka banyak petani ada...orang.
  • A. 4
  • B. 5
  • C. 15
  • D. 15
Pembahasan :


Dongeng

Rabu, 15 Maret 2020

Legenda Putri Mandalika, Sebuah Cerita Dari Timur Indonesia

Legenda Putri Mandalika, Sebuah Cerita Dari Timur Indonesia

Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Dewasa ini pulau Lombok merupakan sebuah pulau yang terkenal akan pesona alamnya yang sangat memukau. Mulai dari tiga gili yang sangat populer yaitu gili trawangan, gili air dan gili meno. Pantai pink yang sangat unik, karena pasirnya yang berwarna pink, hingga pantai senggi yang menjadi ikon pulau Lombok. Namun, dibalik itu semua terdapat sebuah legenda yang tak kalah menarik yang dapat kita temui di pulau Lombok khusunya Lombok Tengah, yaitu Legenda Putri Mandalika.

Alkisah pada jaman dahulu terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Kerajaan tersebut sangatlah tentram dengan rakyat yang juga makmur. Suatu hari Raja dan Ratu di kerajaan tersebut melahirkan seorang anak yang berparas cantik dan diberi nama Putri Mandalika.

Putri Mandalika tumbuh menjadi seorang putri yang tak hanya berparas cantik tetapi juga berkepribadian baik. Ini ditunjukkan dengan sifatnya yang baik, sopan, bahasanya lembut dan ramah kepada semua orang. Karena kecantikannya membuat para pangeran di berbagai kerajaan dan para pemuda menjadi memperebutkan Putri Mandalika. Mereka diyakini telah terpikat akan kecantikan Putri Mandalika. Hingga kemudian banyak para pemuda dan para pangeran banyak yang melamar sang Putri.

Karena banyak yang melamar Putri Mandalika, akhirnya sang Raja menyerahkan keputusan tersebut kepada sang Putri sendiri. Setelah itu, Putri Mandalika memutuskan bersemedi untuk mencari petunjuk dari apa yang terjadi. Sepulangnya bersemedi, Putri Mandalika mengundang seluruh pangeran dan pemuda pada tanggal ke 20 bulan ke 10 pada penanggalan sasak (masyarakat yang mendiami pulau Lombok disebut sebagai masyarakat suku sasak). Putri mengundang semuanya untuk berkumpul di pantai Seger (atau dikenal pantai kuta Lombok) pada waktu pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang.

Pada tanggal dan tempat yang telah diputuskan oleh Putri Mandalika, berkumpulah seluruh pangeran, pemuda dah bahkan rakyat kerajaan tersebut. Mereka terlihat memadati pantai Seger. Seketika matahari mulai terbit, Putri Mandalika beserta Raja, Ratu, dan para pengawalnya datang menemui seluruh undangan. Pada waktu itu Putri Mandalika terlihat sangat cantik dibalut dengan busana indah yang terbuat dari sutera. Putri Mandalika beserta pengawalnya naik ke atas bukit Seger dan mengucapkan beberapa patah kata yang ditujukkan oleh seluruh tamu undangan. Isi ungkapan Putri Mandalika kurang lebih berisi bahwa Putri Mandalika hanya ingin melihat ketentraman dan kedamaian di pulau Lombok tanpa adanya sedikitpun perpecahan didalamnya. Sang Putri menyadari jika ia menerima satu atau sebagian lamaran akan terjadi perpecahan atau perselisihan diantara mereka yang tidak ia terima. Untuk itu sang Putri berencana menerima semua lamaran yang ditujukan kepadanya. Serentak seluruh tamu undangan yang terdapat di pantai tersebut bingung dengan perkataan Putri Mandalika. Kemudian tiba-tiba sang Putri menjatuhkan dirinya ke dalam laut dan seketika hanyut di telan ombak. Para rakyat dengan sigap menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Putri Mandalika. Tetapi sang Putri hilang tanpa ada tanda-tanda sedikitpun.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Gambar : Pemandangan dari atas bukit seger

Tak lama kemudian muncul binatang kecil-kecil yang yang sangat banyak dari laut. Binatang tersebut ternyata sebuah cacing panjang yang kemudian cacing tersebut diberi nama nyale dan dipercaya oleh masyarakat bahwa cacing tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika. Hingga dikemudian hari berkembang sebuah upacara adat Nyale yang menjadi tradisi masyarakat Lombok. Tradisi ini dilakukan setahun sekali pada sekitar bulan Februari – Maret.

Selasa, 14 April 2020

LATIHAN IPA

Selasa, 14 April 2020

1. Berikut ini yang menjadi pusat tata surya adalah . . . .
A. Bumi 
B. Bulan
C. Matahari 
D. Komet

2. Berikut ini yang bukan termasuk planet luar adalah . . . .
A. Mars 
B. Venus
C. Saturnus 
D. Yupiter

3. Planet yang mendapat julukan sebagai bintang kejora adalah . . . .
A. Venus 
B. Merkurius
C. Bumi 
D. Uranus
 
4. Benda langit yang sering disebut bintang berekor adalah . . . .
A. meteor 
B. satelit
C. komet 
D. planet

5. Arah rotasi Bumi, yaitu dari . . . .
A. Barat dan Timur 
B. Barat dan Utara
C. Timur dan Barat 
D. Utara dan Selatan

6. Perhatikan gambar ini



Gambar diatas adalah planet ….
A. merkurius
B. venus
C. bumi
D. saturnus

7. Orang yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa dinamakan . .
A. astronot 
B. pilot
C. satelit 
D. alien


8. Tata surya yaitu bagian di alam semesta yang sangat luas. Tata surya juga terletak di dalam satu galaksi yang dapat disebut Bimasakti. Galaksi Bimasakti dapat juga disebut =….
A. Sky high
B. Milky way
C. Sky way
D. Univers


9. Planet – planet sedang beredar mengelilingi Matahari. Planet – planet tersebut beredar dalam satu lintasan planet yang dapat dinamakan orbit yang berbentuk elips. Peredaran planet – planet yang sedang mengelilingi matahari tersebut disebut =….
A. Revolusi matahari
B. Revolusi bulan
C. Revolusi planet

D. Revolusi bumi


10. Perhatikan gambar berikut!
Related image



Jika bulan berada pada posisi 2 dan 4, maka gerhana yang terjadi adalah gerhana...
A. bulan total                                 
B. matahari total
C. bulan sebagian                      
D. matahari sebagian